Menstruasi yang sering terlambat atau jerawat berat bisa menjadi tanda gangguan yang selama ini dikenal sebagai PCOS. Istilah itu kini bergeser menjadi PMOS, kependekan dari Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome, untuk menggambarkan dampaknya yang tidak terbatas pada ovarium dan kesuburan.
Perubahan nama tersebut menempatkan kondisi hormonal dan metabolik sebagai bagian penting dari pemahaman terhadap penyakit ini. Bagi perempuan, terutama yang masih muda, pesan praktisnya tetap sama: keluhan yang berulang sebaiknya diperiksa, bukan dianggap sebagai persoalan menstruasi semata.
Liputan6 melaporkan bahwa PMOS diperkirakan dialami 4 hingga 10 persen perempuan usia subur di Indonesia. Sejumlah studi klinis yang dikutip media itu mencatat angka sekitar 6,5 hingga 9,1 persen pada remaja dan perempuan dewasa muda.
Nama baru menegaskan dampak di luar ovarium
Istilah PCOS kerap membuat orang mengira kondisi ini selalu ditandai kista pada ovarium. Padahal, folikel yang terlihat pada sebagian pasien bukan selalu kista patologis, dan tidak semua orang dengan kondisi tersebut mengalaminya. Fokus pada kata “polikistik” juga dapat membuat persoalan hormonal dan metabolik luput dari perhatian.
Menurut Popmama, perubahan nama mengikuti kolaborasi para ahli medis dan pasien selama 14 tahun. Pilihan istilah PMOS dimaksudkan untuk lebih mencerminkan keterlibatan berbagai sistem tubuh. Fimela juga melaporkan bahwa penyesuaian nama ini diharapkan membantu tenaga kesehatan dan pasien memahami kondisi secara lebih menyeluruh.
PMOS berkaitan dengan ketidakseimbangan hormon, gangguan ovulasi, dan pada sebagian pasien, peningkatan hormon androgen. Dampaknya bisa terlihat pada siklus menstruasi yang tidak teratur, jerawat berat, pertumbuhan rambut berlebih, atau penipisan rambut. Keluhan dan kombinasi gejala berbeda pada setiap orang.
“Banyak perempuan muda di Indonesia hidup dengan kondisi ini selama bertahun-tahun tanpa diagnosis. Hal ini menjadikannya seperti ‘epidemi sunyi’ yang secara perlahan mengancam kesehatan jangka panjang serta kualitas hidup mereka,” ujar dokter spesialis obstetri dan ginekologi Gleneagles Hospital, Singapura, Dr. Wei-Wei Wee-Stekly, seperti dikutip Liputan6.
Gangguan metabolik dapat menyertai gejala reproduksi
Risiko PMOS tidak berhenti pada kesulitan ovulasi atau kemungkinan masalah kesuburan. Liputan6 menyebut kondisi ini juga berkaitan dengan peningkatan risiko diabetes tipe 2, penyakit kardiovaskular, dan gangguan metabolik lain. Salah satu kaitannya adalah resistensi insulin, yakni keadaan ketika tubuh tidak merespons insulin dengan baik.
Popmama turut mencatat hubungan PMOS dengan sejumlah masalah kesehatan lain, termasuk penyakit hati, apnea tidur, kecemasan, dan depresi. Daftar risiko tersebut tidak berarti semua pasien akan mengalaminya. Namun, kondisi ini menjadi alasan pemeriksaan tidak seharusnya hanya berfokus pada ovarium atau rencana kehamilan.
Diagnosis tetap dilakukan berdasarkan gabungan temuan klinis, bukan semata-mata ada atau tidaknya kista. Popmama menjelaskan bahwa penilaian dapat mempertimbangkan gangguan ovulasi, tanda atau bukti kadar androgen yang tinggi, serta kondisi ovarium. Pada remaja, sumber itu menekankan perlunya melihat siklus yang tidak teratur bersama bukti peningkatan androgen.
Perubahan istilah belum berarti kriteria diagnosis langsung berubah. Orang yang sebelumnya mendapat diagnosis PCOS kemungkinan tetap memenuhi kriteria PMOS, tetapi pemeriksaan dan penilaian dokter tetap diperlukan untuk memastikan kondisi masing-masing.
Penanganan disesuaikan dengan kebutuhan pasien
Terapi PMOS tidak seragam. Dokter mempertimbangkan gejala, hasil pemeriksaan hormon dan metabolik, serta apakah pasien memiliki rencana untuk hamil. Liputan6 menyebut pilihan penanganan dapat mencakup kontrasepsi oral untuk membantu mengatur menstruasi, obat anti-androgen untuk gejala terkait hormon tersebut, dan obat yang meningkatkan sensitivitas insulin.
Bagi pasien yang ingin hamil, dokter dapat mempertimbangkan induksi ovulasi. Jika pengobatan medis tidak memberi respons yang diharapkan, prosedur minimal invasif berupa laparoscopic ovarian drilling dapat menjadi pilihan pada kasus tertentu. Keputusan terapi, termasuk prosedur, harus didasarkan pada evaluasi pasien.
Perawatan juga dapat mencakup penyesuaian pola hidup dan asupan nutrisi. Liputan6 menyebut pendekatan lintas bidang, seperti ginekologi, endokrinologi reproduksi, dan gizi klinis, dapat digunakan untuk menangani kebutuhan yang berbeda pada setiap pasien. Pemeriksaan menyeluruh membantu dokter menilai bukan hanya siklus menstruasi, tetapi juga aspek metabolik.
Adopsi nama PMOS diperkirakan berlangsung bertahap. Fimela melaporkan transisi istilah akan berjalan selama tiga tahun dan nama baru ditargetkan masuk dalam Pedoman Internasional 2028. Sampai perubahan itu diterapkan luas, pasien dapat menjumpai kedua istilah dalam informasi kesehatan dan konsultasi medis.
