Gagal Ginjal pada Remaja: Pasien 17 Tahun Jalani Dialisis

Kesehatan

Seorang pasien berusia 17 tahun di Vietnam harus menjalani cuci darah setelah fungsi ginjalnya rusak berat. Dokter yang menanganinya menyebut tekanan darah tinggi dan diabetes telah memperburuk kondisi remaja tersebut, sekaligus mengingatkan bahwa gangguan ginjal tidak hanya dialami orang lanjut usia.

Kasus itu disampaikan Dr Tran Dinh Nghia, Kepala Departemen Nefrologi dan Dialisis Rumah Sakit Umum An Sinh. Dalam laporan detikHealth yang mengutip Vietnam.vn, Nghia mengatakan pasien muda dengan kebutuhan dialisis pernah ia temui selama praktiknya.

“Penyakit ginjal kronis mempengaruhi sekitar 10 persen populasi global. Yang perlu dicermati, penyakit ini tidak hanya menyerang lansia. Faktanya, selama berpraktik, saya pernah menangani pasien berusia 17 tahun yang sudah membutuhkan cuci darah,” ungkap Dr Nghia.

Usia muda, dengan demikian, bukan jaminan seseorang terhindar dari kerusakan ginjal. Dokter di Vietnam juga menyebut pasien berumur 16 hingga 17 tahun dapat datang ke rumah sakit ketika kondisinya sudah gawat.

Pemeriksaan jutaan warga menemukan risiko ginjal

Gambaran lebih luas terlihat dari program pemeriksaan kesehatan massal di Ho Chi Minh City yang menjangkau lebih dari enam juta orang. Analisis terhadap usia peserta, perkiraan kemampuan penyaringan ginjal atau eGFR, serta kandungan protein dalam urine menemukan 6,20 persen peserta diduga mengalami penyakit ginjal.

Angka tersebut bukan satu-satunya temuan. Sebanyak 12,39 persen peserta lain belum terdiagnosis, tetapi tercatat memiliki faktor risiko tinggi. Hasil pemeriksaan itu menunjukkan perlunya membedakan orang yang diduga sudah mengalami penyakit dengan mereka yang berisiko dan memerlukan perhatian lebih lanjut.

Ginjal berfungsi membuang sisa metabolisme melalui urine dan membantu menjaga keseimbangan cairan tubuh. Ketika kerusakan mencapai stadium lima, fungsi organ itu sudah sangat menurun. Pasien pada tahap tersebut memerlukan terapi pengganti ginjal, termasuk dialisis.

Prof Madya Nguyen Bach, Kepala Departemen Ginjal Buatan Rumah Sakit Thong Nhat, mengatakan banyak orang baru mengetahui dirinya mengalami gagal ginjal saat tiba dalam keadaan darurat. Sebagian pasien yang ia temui pun masih berusia belasan tahun.

Obat tanpa pengawasan ikut dikhawatirkan

Bach menilai rasa sehat dan tubuh yang masih kuat dapat membuat anak muda mengabaikan kondisi ginjal. Ia juga mengaitkan kebiasaan makan dengan risiko hipertensi dan diabetes. Pola konsumsi tinggi garam serta gaya hidup yang kurang sehat disebut dapat menjadi pemicu kedua masalah tersebut.

Namun, perhatian dokter tidak berhenti pada pola makan. Penggunaan obat tanpa resep juga disebut berisiko merusak ginjal, baik secara akut maupun dalam jangka panjang. Bach menyoroti konsumsi obat pereda nyeri golongan NSAID dalam waktu lama, serta penggunaan ramuan tradisional yang kandungan dan asalnya tidak jelas.

“Banyak orang mengalami gagal ginjal akibat mengonsumsi obat-obatan tanpa resep dokter, obat pereda nyeri jangka panjang yang mengandung NSAID (obat antiinflamasi nonsteroid), hingga minum obat tradisional atau ramuan herbal yang tidak jelas asal-usulnya,” tegas Prof Bach.

Nghia turut mengingatkan masyarakat agar berhati-hati terhadap produk yang mengklaim dapat mendetoksifikasi tubuh atau memberi efek menyejukkan. Menurut dia, kandungan serta risikonya belum tentu telah diuji. Penggunaan produk semacam itu tanpa pertimbangan medis, terutama bersamaan dengan obat rutin, dapat memperburuk kerusakan organ.

Risiko bisa luput karena gejala tak disadari

Kasus remaja yang menjalani dialisis memperlihatkan bahwa usia bukan satu-satunya hal yang perlu diperhatikan. Faktor seperti tekanan darah tinggi, diabetes, penggunaan obat, dan kebiasaan sehari-hari dapat berkaitan dengan risiko gangguan ginjal, menurut para dokter yang dikutip dalam laporan tersebut.

Temuan pemeriksaan di Ho Chi Minh City juga menggarisbawahi adanya kelompok yang belum terdiagnosis meski sudah masuk kategori berisiko tinggi. Pemeriksaan fungsi ginjal, termasuk melalui eGFR dan protein urine, menjadi bagian dari analisis program itu. Hasilnya tidak otomatis berarti seluruh peserta yang berisiko telah mengalami gagal ginjal, tetapi memperlihatkan bahwa masalah tersebut bisa luput dari perhatian.

Bagi pasien yang telah mencapai stadium akhir, dialisis menjadi terapi pengganti fungsi ginjal. Sementara itu, peringatan para dokter di Vietnam berpusat pada risiko yang kerap disepelekan, mulai dari menganggap usia muda sebagai perlindungan hingga menggunakan obat atau ramuan tanpa mengetahui keamanannya.