Celah PHP Picu Penutupan Sementara Situs di Berbagai Negara

Teknologi

Sejumlah situs pemerintah dan layanan digital di berbagai negara ditutup sementara setelah peneliti keamanan siber menemukan celah serius pada PHP, bahasa pemrograman yang menopang banyak situs di internet. Pengelola diminta segera memasang pembaruan keamanan atau menonaktifkan sistem untuk sementara jika perbaikan belum dapat diterapkan.

Kerentanan yang telah tersembunyi selama bertahun-tahun itu terungkap dengan bantuan kecerdasan buatan (AI). Pemerintah dan lembaga keamanan siber di sejumlah negara mengeluarkan peringatan, sementara pengembang PHP merilis patch darurat untuk menutup celah tersebut.

Apa itu PHP dan mengapa dampaknya luas?

PHP merupakan singkatan dari PHP: Hypertext Preprocessor. Bahasa pemrograman ini telah digunakan sejak 2000-an untuk membangun dan menjalankan situs web, termasuk toko daring, Wikipedia, dan WordPress, sistem pengelolaan konten yang digunakan banyak situs.

Ketika seseorang membuka halaman web, PHP dapat mengumpulkan informasi yang dibutuhkan lalu menyajikannya dalam format yang bisa dibaca pengunjung. Karena banyak layanan dibangun di atas teknologi ini, kelemahan pada PHP berpotensi merembet ke berbagai jenis situs, bukan hanya satu platform atau organisasi.

Paul Spain, kepala eksekutif Gorilla Cyber Security, mengatakan celah tersebut memungkinkan peretas mengambil alih kendali server yang terdampak tanpa autentikasi. Kondisi itu juga dapat membuka risiko terhadap data sensitif yang tersimpan di sistem.

Spain memperkirakan dampaknya dapat menjangkau jutaan situs. Peneliti keamanan siber Jill Slay dari University of Adelaide mengingatkan bahwa situasinya bisa menjadi sangat serius jika peretas atau negara memanfaatkan celah tersebut untuk mengambil data pribadi.

Situs ditutup sebagai langkah pencegahan

Sejumlah organisasi memilih membatasi akses ke sistem mereka sambil menunggu pembaruan. Wikimedia, organisasi di balik Wikipedia, menonaktifkan beberapa sistem. Situs atau halaman web milik pemerintah Finlandia, Dewan Kota Edinburgh, dan BBC juga sempat dimatikan, begitu pula situs lembaga keamanan siber Belanda.

Beberapa organisasi publik di Skotlandia, termasuk dewan kota dan lembaga kesehatan, turut menonaktifkan situs mereka. Laporan lain menyebut sejumlah situs pemerintah di Eropa, termasuk di Belanda dan Finlandia, memutus koneksi internet sebagai tindakan pencegahan. Prancis juga menonaktifkan beberapa situs Kementerian Dalam Negeri.

Penutupan sementara itu tidak dengan sendirinya menandakan bahwa situs-situs tersebut telah berhasil diretas atau datanya dicuri. Langkah tersebut merupakan upaya mengurangi risiko ketika pengelola belum dapat memastikan sistem aman atau belum sempat memasang perbaikan.

Organisasi kecil dengan sumber daya keamanan terbatas dinilai lebih rentan, terutama jika situs mereka jarang dirawat. Salil Kanhere, peneliti keamanan siber dari UNSW Sydney, memperingatkan upaya mengeksploitasi celah bisa meningkat setelah rincian teknisnya dipublikasikan.

Pengelola diminta segera memasang patch PHP

Tim pengembang PHP merilis pembaruan darurat pada Rabu (21/10) untuk memperbaiki kerentanan tersebut. Mereka meminta seluruh pengguna PHP segera memperbarui sistem. Patch menjadi langkah utama agar celah yang ditemukan tidak terus dapat dimanfaatkan.

Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat (NSA) menyarankan organisasi yang menggunakan PHP untuk menonaktifkan sistem jika tidak dapat segera memasang patch. Menurut NSA, celah itu dapat memberi akses langsung untuk mengeksploitasi basis data sistem web.

Pusat Keamanan Siber Nasional Inggris (NCSC) juga meminta organisasi memeriksa kemungkinan adanya pintu belakang yang dipasang penyerang. Lembaga keamanan siber di Uni Eropa, Singapura, dan Australia menyampaikan peringatan serupa. Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi turut mendesak masyarakat memeriksa apakah situs publik mereka berjalan menggunakan PHP.

AI membantu menemukan celah, sekaligus mempercepat ancaman

Wiz, perusahaan keamanan siber yang ikut menemukan kerentanan, menyebutnya sebagai kelemahan paling parah yang pernah dideteksi dengan bantuan AI. OpenAI, yang teknologinya digunakan dalam proses penemuan tersebut, menyebut temuan itu sebagai salah satu masalah keamanan paling berdampak dalam beberapa waktu terakhir.

AI dapat membantu peneliti menelaah kode dan menemukan kelemahan yang sulit terlihat melalui pemeriksaan biasa. Namun, kemampuan teknologi yang sama juga dikhawatirkan dapat membuat upaya serangan lebih mudah dan cepat, seperti disampaikan Spain kepada BBC.

Untuk saat ini, prioritas pengelola situs adalah memastikan semua sistem PHP yang digunakan telah diperbarui dan mengikuti arahan lembaga keamanan. Setelah layanan kembali beroperasi, pemeriksaan keamanan tetap penting agar situs tidak sekadar online, tetapi juga terlindungi dari risiko yang telah terungkap.