Lamine Yamal belum membawa pulang Ballon d’Or 2026. Namun, pemain Barcelona itu menegaskan tidak ingin terburu-buru mengejar penghargaan tersebut. Di usia 19 tahun, ia menilai masih ada waktu untuk mencapai target itu setelah menempati peringkat ketiga dalam pemilihan tahun ini.
Gala penghargaan digelar di London Palladium Theatre, London, Inggris. Harry Kane keluar sebagai pemenang, sedangkan Kylian Mbappe berada di posisi kedua. Yamal harus puas di urutan berikutnya, meski tetap memperoleh Kopa Trophy untuk ketiga kalinya secara beruntun.
Posisi ketiga, bukan akhir perjalanan
Hasil pemilihan itu menempatkan Yamal di belakang dua pemain senior yang bersaing dengannya. detikSport melaporkan Kane menjadi penerima Ballon d’Or, sementara Mbappe berada di posisi kedua. Bagi Yamal, malam penghargaan tersebut tidak berakhir tanpa gelar, tetapi trofi utama memang belum menjadi miliknya.
Catatan peringkat Yamal juga memperlihatkan bahwa ia sudah berada di antara kandidat teratas dalam beberapa edisi. Radar Malang menyebut pencapaian terbaiknya sebelum tahun ini adalah peringkat kedua pada edisi sebelumnya. Tahun ini ia turun satu posisi, tetapi kembali masuk tiga besar.
Perbedaan posisi itu tidak mengubah sikap yang ia sampaikan seusai acara. Yamal tidak menyebut kegagalan meraih Ballon d’Or sebagai alasan untuk mengubah arah kariernya. Ia justru menekankan keyakinan terhadap proses yang sedang dijalani dan memilih menunggu kesempatan berikutnya.
Kopa Trophy jadi capaian tersendiri
Di luar persaingan untuk penghargaan utama, Yamal kembali membawa pulang Kopa Trophy. Ia telah meraih trofi itu pada 2024, 2025, dan 2026. Tiga kemenangan beruntun tersebut memberi catatan tersendiri bagi pemain Barcelona itu, meski hasilnya tidak serta-merta menjadikannya pemenang Ballon d’Or.
Dua penghargaan itu menjadi bagian berbeda dari malam yang sama. Ballon d’Or jatuh kepada Kane, sedangkan Yamal menerima Kopa Trophy. Karena itu, hasil gala tahun ini memuat dua kabar bagi Yamal: ia belum meraih gelar utama yang diincarnya, tetapi kembali mendapat pengakuan lewat penghargaan lain.
Radar Malang juga melaporkan bahwa Yamal menilai Pau Cubarsí lebih layak menerima Kopa Trophy. Keterangan itu menunjukkan bahwa perhatian Yamal setelah acara tidak hanya tertuju pada pencapaiannya sendiri. Meski begitu, ia tetap tercatat sebagai penerima penghargaan tersebut untuk kali ketiga berturut-turut.
Prestasi bersama Barcelona dan Spanyol
Yamal datang ke penghargaan tahun ini dengan catatan prestasi bersama klub dan tim nasional. Bersama Spanyol, ia ikut membawa tim itu menjuarai Piala Dunia 2026. Di level klub, ia turut mengantar Barcelona menjadi juara Liga Spanyol dalam dua musim berturut-turut, menurut laporan detikSport.
Rangkaian hasil tersebut menjadi modal yang membuat Yamal percaya peluang Ballon d’Or masih terbuka. Namun, sumber yang mengutip pernyataannya tidak menyebut kapan ia menargetkan kemenangan itu. Ia juga tidak menyampaikan bahwa penghargaan tersebut harus diraih pada edisi terdekat.
Yang ia sampaikan adalah kesediaan untuk menjalani proses tanpa tergesa. Kepada AS, seperti dikutip detikSport, Yamal berkata, “Hal itu akan tiba, hal-hal baik membutuhkan waktu, saya percaya pada jalan yang sedang saya bangun. Tanpa terburu-buru, dengan penuh antusiasme dan ketenangan pikiran bahwa suatu hari nanti momen saya akan tiba.”
Fokusnya kembali ke Barcelona
Setelah gala, perhatian Yamal kembali diarahkan ke klub. Dalam unggahan Instagram yang dikutip Radar Malang, ia menyatakan akan melanjutkan fokus untuk membantu Barcelona meraih kemenangan. Pernyataan itu menggeser pembicaraan dari hasil pemungutan suara ke pekerjaan yang menantinya bersama tim.
Dengan demikian, Ballon d’Or 2026 menjadi capaian yang belum tercapai, bukan target yang ia tinggalkan. Yamal pulang dari London dengan Kopa Trophy dan posisi ketiga, sementara Kane membawa gelar utama. Untuk saat ini, langkah berikutnya bagi pemain berusia 19 tahun itu adalah kembali berkonsentrasi pada Barcelona.
