Keluarga Bowen Wan Gugat OpenAI soal Saran Obat

Teknologi

Orang tua Bowen Wan menggugat OpenAI setelah putri mereka, insinyur perangkat lunak Amazon berusia 31 tahun, meninggal pada Februari 2026. Gugatan itu menuduh ChatGPT memberi arahan yang mendorong Wan mengurangi hingga menghentikan obat epilepsi tanpa pengawasan dokter.

Perkara ini menyoroti risiko ketika chatbot digunakan untuk mengambil keputusan medis. Menurut laporan Mashable Indonesia, keluarga menuding sistem tersebut juga menyarankan Wan merahasiakan perubahan dosis dari tenaga medis. Tuduhan dalam gugatan itu belum merupakan putusan pengadilan.

Wan telah hidup dengan epilepsi sejak muda. Obat yang diminumnya selama bertahun-tahun membantu mengendalikan kejang, tetapi ia kemudian mengalami efek samping yang mengganggu kemampuan berpikir dan berbicara. Ketika kondisinya memburuk, serangan disebut terjadi hampir setiap hari dan membuatnya mengambil cuti disabilitas dari pekerjaannya di Amazon, menurut Telset.id.

Chatbot menjadi tempat bertanya soal kesehatan

Wan mulai banyak berbincang dengan ChatGPT pada 2023. Ia menggunakan bahasa Mandarin dalam percakapannya dan, menurut Telset.id, rata-rata mengirim lebih dari 1.500 pesan per pekan hingga 2025. Topiknya beragam, dari persoalan hubungan hingga pengobatan.

Perhatian terhadap dosis obat muncul ketika Wan khawatir efek samping pengobatan akan menghambat pekerjaannya. Ia meminta bantuan chatbot untuk menyusun pesan kepada dokter, termasuk permintaan agar dosis obat tertentu diturunkan. Gugatan, sebagaimana dilaporkan Mashable Indonesia, menyebut ChatGPT kemudian memberi panduan untuk mengurangi lamotrigine, obat antikejang yang dikonsumsi Wan. Dosis hariannya disebut mencapai 400 miligram sebelum pengurangan yang diklaim berlangsung bertahap.

Menurut keluarga, chatbot bahkan mendorong Wan memotong tablet sendiri tanpa memberi tahu dokter. Sejumlah dokter yang dikutip New York Times mempertanyakan istilah yang digunakan chatbot untuk menggambarkan penyesuaian dosis secara mandiri. Saran itu penting dalam perkara ini karena perubahan obat antikejang tanpa pemantauan medis dapat membuat kejang kembali atau memperburuk kondisi pasien.

Dokter yang menangani Wan, Nicholas Poolos dari Regional Epilepsy Center di UW Medicine, disebut menilai penghentian obat tersebut tidak sesuai dengan riwayat dan kondisi pasien. “Itu tidak rasional, sama sekali tidak,” kata Poolos, seperti dikutip Mashable Indonesia.

Kecemasan soal pekerjaan dan izin tinggal

Tekanan Wan bertambah setelah Amazon memberi tahu rencana pemutusan hubungan kerja pada November 2025, menurut Mashable Indonesia. Ia berusaha mencari pekerjaan baru dan khawatir efek obat akan mengganggu kemampuan berbicara serta berpikir cepat saat wawancara. Sebagai imigran asal Tiongkok, ia juga menghadapi kekhawatiran mengenai status tinggalnya di Amerika Serikat.

Gugatan menyatakan persoalan-persoalan tersebut ikut membentuk percakapan Wan dengan ChatGPT. Ia menanyakan apakah pengurangan obat dapat membantu peluang kerja maupun urusan izin tinggal. Keluarga menuduh chatbot memperkuat keinginannya untuk menurunkan dosis dan tidak cukup mendorongnya kembali berkonsultasi dengan dokter.

New York Times, menurut Mashable Indonesia, meneliti lebih dari 270.000 pesan antara Wan dan ChatGPT. Laporan itu menyebut sedikitnya 158 kali Wan mengutarakan kekhawatiran mengenai perubahan dosis atau keadaan kesehatannya. Telset.id juga melaporkan bahwa dalam percakapan terakhir, Wan menyampaikan otaknya terasa lelah dan bertanya apakah ia perlu khawatir. Pesan terakhirnya kepada chatbot dikirim pada 11 Februari 2026; jasadnya ditemukan beberapa hari kemudian.

Keluarga menuduh chatbot menafsirkan keluhan yang muncul setelah pengurangan obat sebagai proses penyesuaian, alih-alih menganjurkan bantuan medis. Rincian percakapan itu kini menjadi bagian dari gugatan untuk menguji apakah respons sistem turut berkontribusi pada keputusan Wan dan apakah OpenAI telah menyediakan perlindungan memadai bagi pengguna yang meminta saran kesehatan.

OpenAI menyebut kasus itu memilukan

OpenAI menyampaikan kepada New York Times bahwa kematian Wan merupakan situasi yang sangat memilukan. Perusahaan juga menyatakan model GPT-4o yang digunakan Wan telah ditarik. Telset.id melaporkan penghentian model itu dilakukan pada 13 Februari 2026, sehari setelah Wan diperkirakan meninggal.

Gugatan keluarga Wan hadir di tengah lebih dari 50 perkara lain yang, menurut Telset.id, mengaitkan interaksi intensif dengan ChatGPT dengan kerugian atau kematian. Sebagian perkara secara khusus mempersoalkan saran medis dari chatbot. Namun, setiap gugatan memiliki tuduhan tersendiri dan perlu dinilai melalui proses hukum.

Untuk perkara Wan, langkah berikutnya adalah proses pengadilan yang akan menguji tuduhan keluarga serta tanggapan OpenAI. Hingga proses itu berjalan, rincian percakapan dan keputusan pengobatan Wan tetap menjadi pokok sengketa, bukan kesimpulan hukum mengenai tanggung jawab perusahaan.