Mahkota Dewa dan Ginjal: Bukti Masih di Laboratorium

Kesehatan

Mahkota dewa diteliti karena berpotensi membantu melindungi sel ginjal dari dampak obat kemoterapi cisplatin. Namun, temuan yang tersedia baru berasal dari pengujian laboratorium, sehingga belum membuktikan bahwa buah atau olahan tanaman ini aman dan bermanfaat bagi pasien.

Penelitian itu berangkat dari risiko nefrotoksisitas, yakni kerusakan ginjal yang dapat terjadi sebagai efek samping cisplatin. Obat tersebut digunakan untuk menangani sejumlah kanker, termasuk kanker serviks. Bagi pasien yang menjalani kemoterapi, temuan awal tentang mahkota dewa belum menjadi alasan untuk mengonsumsi herbal ini sebagai pelindung ginjal.

Uji sel menunjukkan potensi, bukan bukti pengobatan

Seperti diberitakan CNN Indonesia, penelitian yang dikerjakan Meirizky Zulharini S, Annishfia L. R, Siti Nurul H, dan Naisbitt Iman H dari Universitas Gadjah Mada (UGM) menguji ekstrak mahkota dewa terhadap sel di laboratorium. Kajian tersebut dipublikasikan UGM pada 2013.

Tim meneliti kemungkinan ekstrak membantu mengurangi dampak cisplatin pada sel ginjal. Salah satu perhatian mereka adalah stres oksidatif, keadaan yang berkaitan dengan terbentuknya radikal bebas dan dapat merusak sel. Tantangannya, upaya menekan kerusakan itu tidak boleh mengganggu manfaat cisplatin dalam terapi kanker.

Mahkota dewa dipilih karena mengandung flavonoid, kelompok senyawa yang memiliki aktivitas antioksidan. Salah satu senyawa yang disorot dalam penelitian tersebut ialah kaempferol-3-O-β-D-glukosida. Keberadaan senyawa itu menjadi dasar untuk menguji lebih jauh potensi ekstrak, bukan bukti bahwa konsumsi tanamannya dapat mencegah gangguan ginjal.

Pengujian dilakukan secara in vitro di Cancer Chemoprevention Research Center, Fakultas Farmasi UGM. Sel Vero digunakan sebagai model sel ginjal normal, sedangkan sel HeLa menjadi model sel kanker serviks. Para peneliti juga mengamati viabilitas sel setelah pemberian cisplatin dan ekstrak mahkota dewa dalam kombinasi.

Pada konsentrasi tertentu, kombinasi tersebut berkaitan dengan meningkatnya viabilitas sel Vero. Hasil itu memberi petunjuk awal bahwa ekstrak mungkin memiliki efek perlindungan dalam kondisi uji tersebut. Namun, angka konsentrasi spesifik tidak disajikan dalam laporan yang dirangkum CNN Indonesia.

Uji pada sel tidak sama dengan pemberian herbal kepada manusia. Tubuh menyerap dan mengolah zat aktif dengan cara yang tidak dapat dipastikan hanya dari eksperimen laboratorium. Karena itu, hasil pada sel Vero belum menjelaskan apakah mahkota dewa dapat melindungi ginjal pasien, berapa dosis yang dibutuhkan, atau apakah penggunaannya aman.

Keamanan buah dan interaksi obat belum pasti

Mahkota dewa juga tidak otomatis aman karena berasal dari tanaman. CNN Indonesia mengingatkan bahwa bagian buah, terutama bijinya, dapat berbahaya jika dikonsumsi dengan cara yang tidak tepat. Buah mentah atau bagian yang tidak diolah sebagaimana mestinya berisiko memicu iritasi mulut, pembengkakan, pusing, hingga gangguan yang lebih serius.

Mengiris dan mengeringkan buah secara tradisional pun tidak menjamin seluruh kandungan berbahaya telah hilang atau berada pada kadar aman. Tanpa penelitian memadai mengenai keamanan dan dosis, konsumsi mandiri berisiko, terlebih bagi orang yang sedang menerima pengobatan.

Pasien kanker perlu berhati-hati terhadap produk herbal selama kemoterapi. Kandungannya mungkin berinteraksi dengan obat atau memengaruhi keamanan terapi. Sebelum menggunakan mahkota dewa maupun herbal lain, pasien sebaiknya berkonsultasi dengan dokter yang menangani, bukan mengganti atau menambah terapi berdasarkan hasil uji awal.

Pemantauan ginjal tetap menjadi bagian perawatan

Untuk pasien yang memakai cisplatin, pemantauan fungsi ginjal oleh dokter tetap diperlukan. Pemeriksaan darah dapat membantu dokter menilai kondisi pasien dan menentukan penanganan sesuai keadaan serta obat yang digunakan. Mahkota dewa belum terbukti dapat menggantikan pemeriksaan atau perawatan tersebut.

Penelitian UGM membuka ruang untuk menguji lebih jauh potensi ekstrak, tetapi masih dibutuhkan kajian lanjutan untuk menilai manfaat, keamanan, dosis, dan kemungkinan interaksinya dengan obat. Sampai bukti pada manusia tersedia, mahkota dewa belum dapat disebut sebagai obat ginjal atau cara yang terbukti mencegah kerusakan akibat kemoterapi.