Terapi TB Empat Bulan Hanya untuk Pasien Tertentu

Kesehatan

Pengobatan tuberkulosis (TB) paru aktif selama empat bulan bukan pilihan yang bisa diterapkan kepada semua pasien. Regimen lebih singkat itu hanya dapat digunakan pada kondisi dan kelompok tertentu, sedangkan terapi standar untuk TB paru yang sensitif terhadap obat umumnya berlangsung enam bulan atau lebih.

Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, Dr. dr. Desdiani, SpP, MKK, MSc, menjelaskan bahwa pemilihan lama terapi perlu mempertimbangkan jenis TB dan kondisi pasien. Karena itu, kabar tentang pengobatan yang lebih singkat tidak seharusnya mendorong pasien mengubah atau menghentikan obat tanpa berkonsultasi dengan tenaga medis.

Perbedaan durasi tersebut berkaitan dengan regimen obat yang digunakan. Lama pengobatan saja tidak cukup untuk menentukan apakah sebuah terapi sesuai bagi seseorang.

Regimen standar berjalan enam bulan

Untuk kasus baru TB paru aktif yang sensitif terhadap obat, pola pengobatan standar yang umum digunakan adalah 2HRZE/4HR. Selama dua bulan pertama, pasien mengonsumsi kombinasi isoniazid, rifampisin, pirazinamid, dan etambutol. Setelah fase awal itu, terapi diteruskan selama empat bulan dengan isoniazid dan rifampisin.

Susunan tersebut berarti jumlah obat pada fase lanjutan lebih sedikit, tetapi pasien tetap harus menuntaskan seluruh rangkaian pengobatan yang ditetapkan. Perbaikan gejala pada awal terapi bukan alasan untuk menghentikan obat. Keputusan soal durasi dan regimen berada pada tenaga medis yang menangani pasien.

Menurut Desdiani, penelitian memang membuka kemungkinan pemendekan durasi pengobatan pada keadaan tertentu. Namun, hasil penelitian itu tidak berarti semua orang dengan TB dapat menjalani terapi empat bulan. Pasien yang memenuhi kriteria penelitian dan pasien lain yang diagnosisnya sama belum tentu otomatis memperoleh regimen yang sama.

Empat bulan bergantung pada kombinasi obat

Salah satu regimen empat bulan untuk TB aktif menggunakan rifapentin, isoniazid, pirazinamid, dan moksifloksasin. Dasarnya adalah Study 31/A5349, penelitian yang diterbitkan dalam The New England Journal of Medicine pada 2021. Studi tersebut mendapati terapi itu tidak lebih buruk daripada pengobatan standar enam bulan pada pasien TB paru sensitif obat yang sesuai dengan kriteria penelitian.

“Artinya, efektivitasnya tidak lebih buruk dari terapi standar dalam batas penilaian yang ditentukan,” kata Desdiani, seperti dikutip Liputan6.com dari laman IPB.

Temuan itu memiliki batas yang perlu dipahami. Regimen empat bulan yang diuji tanpa moksifloksasin tidak berhasil membuktikan noninferioritas terhadap terapi standar. Dengan kata lain, hasil untuk satu susunan obat tidak bisa langsung dianggap berlaku pada susunan lain.

Desdiani menekankan bahwa keberhasilan terapi ditentukan pula oleh kombinasi obat, bukan hanya jumlah bulan pengobatan. Hal itu menjadi alasan pasien tidak sebaiknya meniru regimen orang lain atau menganggap semua informasi mengenai terapi singkat cocok untuk kasusnya.

Regimen empat bulan juga dapat diberikan kepada sebagian anak dan remaja dengan TB nonberat. Namun, keterangan tersebut tidak berlaku untuk semua pasien anak, sebagaimana terapi itu juga tidak dapat digunakan pada seluruh pasien dewasa. Penetapan tetap harus mengikuti kondisi dan kriteria medis.

Jangan menghentikan obat saat gejala mereda

Pengobatan yang dihentikan terlalu cepat atau menggunakan regimen yang tidak memadai dapat meningkatkan risiko terapi gagal dan penyakit kambuh. Penggunaan obat yang tidak sesuai juga dapat berkontribusi pada resistensi. Jika resistensi berkembang, pasien mungkin membutuhkan kombinasi obat berbeda dan pengobatan yang lebih rumit dengan durasi lebih panjang.

Risikonya tidak berhenti pada pasien. Menurut Desdiani, orang dengan TB paru yang masih menular dapat terus menyebarkan bakteri kepada orang-orang di sekitarnya. Karena itu, kepatuhan menjalani terapi menjadi bagian dari upaya menjaga keberhasilan pengobatan sekaligus mengurangi risiko penularan.

Pasien dianjurkan tidak berhenti minum obat hanya karena batuk berkurang atau tubuh terasa lebih baik. Bila muncul efek samping atau ada kesulitan menjalani pengobatan, langkah yang disarankan adalah berbicara dengan tenaga medis. Dokter dapat menilai kondisi pasien dan mempertimbangkan penyesuaian terapi tanpa mengabaikan keberhasilan pengobatan.

Dengan demikian, durasi empat bulan merupakan pilihan untuk pasien yang memenuhi persyaratan, bukan pengganti universal terapi standar. Pasien perlu memastikan regimen dan lama pengobatan bersama tenaga medis yang merawatnya.