Bangkai Kapal Bermuda Jadi Habitat Laut

Dunia

Lebih dari 300 bangkai kapal tersebar di perairan Bermuda, Samudra Atlantik Utara. Bagi penyelam, sisa kapal-kapal itu bukan cuma jejak kecelakaan laut, melainkan juga bagian dari habitat ekosistem setempat. Penulis perjalanan Robin Esrock menyaksikan langsung salah satu situs tersebut saat menyelam di kawasan yang kerap dikaitkan dengan misteri Segitiga Bermuda.

Perjalanan Esrock, seperti diberitakan CNN Indonesia, menggabungkan penelusuran bangkai kapal dengan pengamatan kehidupan bawah laut. Lokasi-lokasi karam itu berada di antara hamparan terumbu karang, membentuk bentang yang mempertemukan sejarah pelayaran dan lingkungan laut. Data lebih dari 300 kapal karam di perairan Bermuda sebelumnya dilaporkan Canadian Geographic.

Nama Segitiga Bermuda sering dikaitkan dengan cerita kapal hilang dan gangguan alat navigasi. Namun, pengalaman penyelaman Esrock menghadirkan sisi yang lebih konkret: struktur kapal karam yang masih dapat diamati, serta persoalan ekologis yang dihadapi para pemandu dan penyelam lokal.

Pelinaion karam setelah menabrak terumbu

Salah satu lokasi yang dikunjungi Esrock adalah bangkai Pelinaion, kapal kargo berbendera Yunani dengan panjang sekitar 117 meter. Kapal itu tenggelam pada 16 Januari 1940 setelah menabrak terumbu karang dekat St. David’s Head. Saat kejadian, Pelinaion sedang berlayar dari Afrika Barat menuju Baltimore, Amerika Serikat, dengan membawa muatan bijih besi.

Sisa kapal berada pada kedalaman sekitar 6 hingga 21 meter. Rentang itu memungkinkan penyelam melihat sejumlah bagian struktur yang masih bertahan. Di antaranya ketel uap berukuran besar, bagian dari sistem penggerak kapal, serta mesin utama dan baling-baling cadangan.

Waktu dan kehidupan laut telah mengubah tampilan bangkai tersebut. Sebagian besar komponennya kini tertutup biota laut. Bagi orang yang menyelam, bagian-bagian itu menjadi petunjuk mengenai bentuk kapal dan teknologi yang digunakan pada masa lalu. Di saat yang sama, keberadaannya berada dalam lingkungan terumbu yang dihuni organisme laut.

Catatan mengenai Pelinaion juga memberi konteks pada risiko pelayaran di perairan Bermuda. Kapal itu tidak hilang tanpa jejak dalam kisah yang tak terjelaskan, melainkan karam setelah menghantam terumbu. Bangkainya masih berada di lokasi tersebut puluhan tahun kemudian dan menjadi bagian dari kawasan bawah laut yang dieksplorasi penyelam.

Kisah kompas dan pengalaman penyelam

Narasi misteri Segitiga Bermuda turut muncul dalam percakapan Esrock dengan perwakilan Bermuda Underwater Exploration Institute bernama Horsfield. Ia menjelaskan pengalaman memperlihatkan kompas dari beberapa masa berbeda di atas geladak. Dalam pengamatan itu, kompas-kompas yang lebih tua bergerak ke arah yang berlainan.

Menurut penjelasan Horsfield, perilaku jarum pada kompas lama dapat berubah secara acak dalam kondisi tertentu, ketika utara geografis dan utara magnetis berada segaris serta keadaan atmosfer mendukung. Pengalaman tersebut menjadi salah satu cerita yang mudah dikaitkan dengan reputasi kawasan itu, meski penjelasannya berhubungan dengan cara kerja alat navigasi lama.

Esrock juga menanyakan kemungkinan adanya pengalaman supranatural kepada pemandu selam setempat. Pemandu itu mengatakan tidak pernah mengalami kejadian mistis, walaupun telah bertahun-tahun memimpin penyelaman malam. Kesaksian tersebut kontras dengan cerita-cerita populer tentang kawasan Bermuda, tetapi tidak menghapus daya tarik bangkai kapal yang dapat dilihat langsung.

Ikan singa jadi perhatian utama

Bagi penyelam lokal, ancaman yang lebih nyata justru datang dari ikan singa atau lionfish. Spesies invasif asal Indo-Pasifik itu berpotensi mengganggu rantai makanan dan ekosistem terumbu karang di Atlantik. Pemandu setempat bahkan rutin menombak ikan tersebut sebagai upaya mengendalikan populasinya.

Perhatian pada lionfish menggeser fokus dari kisah-kisah gaib menuju kondisi lingkungan yang dihadapi di bawah permukaan. Bangkai kapal mungkin menarik karena sejarah dan bentuknya, tetapi kawasan itu juga merupakan ruang hidup bagi ekosistem laut. Kehadiran spesies invasif menambah persoalan yang harus dihadapi di perairan yang sama.

Dengan demikian, penyelaman Esrock memperlihatkan dua sisi Bermuda: warisan kapal karam yang masih dapat ditelusuri dan lingkungan laut yang rentan terhadap tekanan ekologis. Upaya pemandu lokal menombak lionfish menjadi langkah konkret yang disebut dalam laporan tersebut untuk membatasi populasinya.